Jumat, 26 Maret 2010
Cara Meningkatkan Daya Simak
Setiap manusia dilahirkan dengan sejumlah potensi. Salah satu potensi pembawaan sejak lahir itu adalah potensi mampu menyimak. Potensi harus dibina dan dikembangkan. Melalui latihan menyimak yang terarah dan berkesinambungan, potensi tadi dapat berwujud menjadi kemampuan menyimak yang nyata. Tanpa pembinaan dan pengembangan, potensi tersebut tetap berupa potensi tertutup. Tidak timbuh, atau mati.
Walaupun manusia berlatih menyimak, kemampuan menyimaknya terbatas. Keterbatasan itu disebabkan oleh daya tangkapnya yang terbatas dan daya ingatannya terbatas pula. Para ahli memperkirakan orang yang cukup mendapat latihan menyimak, dalam kondisi fisik yang segar dan mental yang stabil, hanya dapat menangkap isi bahan simakan 50%. Dalam dua bulan berikutnya yang diingat hanya setengahnya. Mungkin dalam dua bulan berikutnya sisanya sudah menghilang pula.
Menyimak sangat fungsional dalam kehidupan manusia. Melalui menyimak seseorang memperoleh kemungkinan besar mendapatkan informasi. Para ahli berpendapat bahwa sebagian besar dari pengetahuan seseorang dan nilai-nilai yang diyakininya diperoleh melalui kegiatan menyimak. Karena itu sangatlah beralasan bila setiap orang dituntut terampil menyimak.
Dalam tahap mendengar, penyimak berusaha menangkap pesan pembicara yang sudah diterjemahkan dalam bentuk bunyi bahasa. Untuk menangkap bunyi bahasa itu diperlukan telinga yang peka dan perhatian terpusat. Bunyi yang sudah ditangkap perlu diidentifikasi, dikenali dan dikelompokkan menjadi suku kata, kata, kelompok kata, kalimat, paragraf, atau wacana. Pengidentifikasian bunyi bahasa akan semakin sempurna apabila penyimak memiliki kemampuan linguistik.
Kemudian, bunyi bahasa itu perlu diinterprestasikan maknanya. Perlu diupayakan agar interpretasi makna ini sesuai atau mendekati makna yang dimaksudkan oleh pembicara. Setelah proses penginterpretasian makna selesai, maka penyimak dituntut untuk memahami atau menghayati makna itu. Hal ini sangat perlu buat langkah berikutnya, yakni penilaian.
Makna pesan yang sudah dipahami kemudian ditelaah, dikaji, dipertimbangkan, dikaitkan dengan pengalaman, dan pengetahuan penyimak. Kualitas hasil penilaian sangat tergantung kepada kualitas pengetahuan dan pengetahuan penyimak. Tahap akhir dari proses menyimak ialah menanggapi makna pesan yang telah selesai dinilai. Tanggapan atau reaksi penyimak terhadap pesan yang diterimanya dapat berwujud berbagai bentuk seperti mengagguk-angguk tanda setuju, mencibir atau mengerjakan sesuatu.
Kawolda, seorang ahli, menawarkan lima cara untuk mempertajam daya simak. Kelima cara tersebut adalah:
1. Simak-ulang ucap
2. Identifikasi kata kunci
3. Parafrase
4. Merangkum
5. Menjawab pertanyaan
Menjadi pendengar/penyimak yang baik membutuhkan usaha dan latihan yang teratur. Langkah terpenting pertama yang harus kita lakukan adalah menyadari bahwa menyimak seseorang berbicara adalah suatu kebutuhan yang sama pentingnya dengan keterampilan berkomunikasi yang lain seperti: berbicara, menulis dan membaca.
Berikut ini beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai panduan pada saat kita menyimak seseorang berbicara :
1. Mencoba memahami pokok pikiran atau ide utama pembicara
Seorang penyimak yang baik selalu mencoba untuk memahami intisari dari suatu pesan. Jangan mendengar secara masuk telinga kanan keluar telinga kiri atau sebaliknya. Dari pembicaraan yang panjang lebar, tentu terdapat pokok pikirannya. Peganglah pokok pikiran itu, niscaya Anda tahu maksud pembicara. Hal ini mungkin sulit dilakukan pertama kali. Karena itu, kita memang perlu latihan berkonsentasi mendengarkan orang yang berbicara tanpa melakukan hal lain yang mengganggu konsentrasi kita.
2. Hindari gangguan dari lingkungan sekitar
Penyimak yang baik selalu mencoba untuk memfokuskan diri pada pembicara. Mencoba mendengarkan pendapat teman ketika rapat sebagai contoh, tanpa terpengaruh oleh sinyal SMS, dering telepon, orang yang berlalu lalang, dan sebagainya. Oleh karena itu untuk pembicaraan yang serius, faktor lingkungan perlu diperhatikan.
3. Mencoba untuk mengendalikan emosi
Penyimak yang baik selalu mencoba untuk mengesampingkan emosi, sehingga ia dapat menerima pembicaraan dengan jernih. Penyimak yang baik juga selalu mencoba untuk memahami pembicara tanpa membuat penilaian pribadi atas pembicara. Memang kadang ada kata-kata yang keliru dari pembicara yang perlu diluruskan. Namun pelurusannya pun harus dengan ilmu. Nasehat hendaknya disampaikan setelah pembicara rampung berkata-kata. Itu pun disampaikan secara empat mata tidak di depan audiens yang lain.
4. Membuat catatan jelas dan singkat
Buatlah catatan kecil tanpa mengurangi konsentrasi kita pada saat menyimak. Harap diingat kita tidak dapat mengerjakan dua tugas sekaligus tanpa mengurangi keefektifan salah satu di antaranya. Jadi ini harus dilakukan dengan ekstra konsentrasi.
5. Mencoba untuk bersikap empati
Mencoba untuk menghargai posisi pembicara, sehingga kita terhindar dari mendengar apa yang hanya mau kita dengar saja.
6. Memperhatikan komunikasi non verbal
Tataplah lawan bicara, dan perhatikan bahasa tubuh mereka. Seringkali terjadi pemahaman akan suatu informasi lebih bisa kita pahami dengan memperhatikan raut muka dan gerak tubuh lawan bicara. Dan sebagai penyimak, kita pun harus memperhatikan bahasa tubuh yang kita tampilkan, seperti posisi duduk, raut muka, anggukan kepala dan sebagainya.
7. Mendengarkan dengan selektif
Seringkali dalam suatu pembicaraan, pembicara memberikan informasi-informasi yang penting. Kadang informasi tersebut tersembunyi di dalam konteks pembicaraan. Kita diharapkan dapat memilah-milah informasi tersebut untuk mendapatkan yang kita butuhkan.
8. Bertanya pada tempatnya
Tunda dahulu pertanyaan dan gagasan yang ingin disampaikan sampai pembicara selesai. Ajukan pertanyaan untuk memperjelas maksud pembicara.
9. Buatlah kesimpulan atas apa yang menjadi inti pembicaraan
Dengan mencoba menangkap intisari pembicaraan diharapkan kita dapat memahami permasalahan dengan kata kita sendiri. Cobalah ramu kembali apa yang pembicara sampaikan dengan kata-kata sendiri. Ini akan melatih untuk mengambil kesimpulan dengan baik.
10. Memberikan umpan balik
Memberikan umpan balik kepada pembicara sehingga dapat menjadi ukuran sejauh mana dapat memahami topik yang dibicarakan.
Faktor penyimak adalah yang terpenting dan paling menentukan keefektifan dalam peristiwa menyimak. Hal-hal yang perlu diperhatikan menyangkut diri penyimak antara lain:
a) Kondisi
Kondisi fisik dan mental penyimak dalam keadaan baik dan stabil. Penyimak tidak mungkin menyimak secara efektif bila kondisi fisik dan mentalnya tidak menunjang.
b) Konsentrasi
Penyimak harus dapat memusatkan pikirannya terhadap bahan simakan. Buat sementara yang bersangkutan harus dapat menyingkirkan pikiran-pikiran lain selain bahan simakan.
c) Bertujuan
Penyimak harus bertujuan dalam penyimak. Yang bersagkutan harus dapat merumuskan tujuannya secara tegas sehingga ia mempunyai arah dan pendorong dalam menyimak.
d) Berminat
Penyimak hendaknya berminat, atau mengusahakan meminati bahan yang disimaknya.
e) Mempunyai kemampuan linguistik dan nonlinguistik
Penyimak haruslah memiliki kemampuan linguistik agar yang bersangkutan dapat menginterpretasi dan memahami makna yang terkandung dalam bunyi bahasa. Di samping itu penyimak juga harus memiliki kemampuan nonlinguistik. Kemampuan nonlinguistik berguna dalam membaca situasi, menafsirkan gerak-gerik pembicara, perubahan air mukanya, yang berfungsi sebagai pelengkap makna pembicaraannya.
f) Berpengalaman luas dan berpengetahuan
Penyimak juga harus memiliki pengalaman dan pengetahuan luas mendalam akan lebih mudah menerima, mencerna, dan memahami isi bahan simakan.
Penyimak yang dapat memenuhi persyaratan tersebut diatas pasti berhasil dalam setiap peristiwa menyimak. Penyimak yang belum dapat memenuhi persyaratan tersebut jelas akan mengalami berbagai hambatan dalam menyimak.
Hakikat Anak Berkebutuhan Khusus
A. PENGERTIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
1. Istilah
Anak berkebutuhan khusus ( child with special needs ), biasa juga disebut dengan anak cacat, anak tuna, anak berkelainan, anak menyimpang, dan anak luar biasa
2. Konsep Dasar Anak Berkebutuhan Khusus
Untuk memahami anak berkebutuhan khusus berarti kita mesti melihat adanya berbagai perbedaan bila dibandingkan dengan keadaan normal, mulai dari keadaan fisik sampai mental, dari anak cacat sampai anak berbakat intelektual. Perbedaan untuk memahami anak berkebutuhan khusus dikenal ada 2 hal yaitu perbedaan interindividual dan intraindividual.
a. Perbedaan interindividual
Berarti membandingkan keadaan individu dengan orang lain dalam berbagai hal diantaranya perbedaan keadaan mental ( kapasitas kemampuan intelektual ), kemampuan panca indera ( sensory ), kemampuan gerak motorik, kemampuan komunikasi, perilaku social, dan keadaan fisik.
b. Perbedaan intraindividual
Adalah suatu perbandingan antara potensi yang ada dalam diri individu itu sendiri, perbedaab itu dapat muncul dari berbagai aspek meliputi intelektual, fisik, psikologis, dan social.
Selain masalah perbedaan, ada beberapa terminology yang dapat digunakan untuk memahami anak berkebutuhan khusus, istilah tersebut yaitu ;
- Impairment berhubungan dengan penyakit dan kelainan pada jaringan.
- Disability berhubungan dengan kekurangan/kesalahan fungsi atau tidak adanya bagian tubuh tertentu.
- Handicap berhubungan dengan kelainan dan ketidakmampuan yang dimiliki seseorang bila berinteraksi dengan lingkungan.
Kesimpulan :
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan-perbedaan baik perbedaan interindividual maupun intraindividual yang signifikan, dan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan, sehingga untuk mengenbangkan potensinya dibutuhkan pendidikan dan pengajaran khusus.
3. Prevalensi
Perkiraan jumlah anak berkebutuhan khusus sangat diperlukan dalam pengambial kebijakan. Dalam mengemukakan jumlah anak berkebutuhan khusus terjadi perbedaan antar lembaga, hal ini dimungkinkan adanya perbedaan definisi dan kebutuhan yang disesuaikan dengan bidang masing-masing. Jumlah anak yang berkebutuhan khusus di Indonesia belum ada data yang akurat, hal ini terkait dengan adanya sikap masyarakat yang masih menganggap anak berkebutuhan khusus sebagai aib keluarga.
B. JENIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
1. Kelainan Mental, terdiri dari ;
a. Mental Tinggi, yaitu anak yang berbakat intelektual.
b. Mental Rendah, dibagi menjadi 2, yaitu anak lamban ( IQ antara 70-90 ) dan anak berkebutuhan khusus ( IQ dibawah 70 )
c. Berkesulitan Belajar Spesifik, yaitu anak yang memiliki kapasitas intelektual normal ke atas tetapi memiliki prestasi belajar rendah pada bidang akademik tertentu.
2. Kelainan Fisik, yaitu ;
a. Kelainan Tubuh ( Tunadaksa ), yaitu adanya kondisi tubuh yang menghambat proses interaksi dan sosialisasi individu.
b. Kelainan Indera Penglihatan ( Tunanetra ), yaitu ketidakmampuan memfungsikan indera penglihatan untuk keperluan pendidikan dan pengajaran walaupun telah dikoreksi dengan lensa.
c. Kelainan Indera Pendengaran ( Tunarungu), yaitu ketidakmampuan mengfungsikan pendengarannya untuk interaksi dan sosialisasi dengan lingkungan termasuk pendidikan dan pengajaran.
d. Kelainan Wicara, yaitu adanya kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal.
3. Kelainan Emosi, diantaranya ;
a. Gannguan Perilaku
· Mengganggu di kelas
· Tidak sabaran – terlalu cepat bereaksi
· Tidak menghargai – menentang
· Menyalahkan orang lain, dll.
b. Gangguan Konsentrasi ( ADD/ Attention Deficit Disoder )
· Sering gagal untuk memperhatikan secara detail
· Sering kesulitan untuk memperhatikan tugas-tugas atau aktivitas permainan
· Sering tidak mendengarkan ketika orang lain berbicara
· Mudah melupakan pada aktivitasnya sehari-hari,dll.
c. Anak Hiperaktif ( ADHD/ Attention Deficit with Hiperactivity Disorder )
· Berlaku tidak bisa diam
· Hiperaktivitas
· Aktivitas motorik yang tinggi
· Mudah buyarnya perhatian, dll.
Untuk peningkatan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus Departemen Pendidikan Nasional melalui Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa ( PSLB ) memiliki kebijakan tersendiri dalam mengelompokkan anak-anak berkebutuhan khusus. Adapun klasifikasi yang diberikan oleh direktorat PSLB adalah sebagai berikut :
a) Tunanetra
b) Tunarungu
c) Berkebutuhan khusus : (a.l. Down symdrome )
ü C : Berkebutuhan khusus Ringan ( IQ = 50-70 )
ü C1 : Berkebutuhan khusus Sedang ( IQ = 25-50 )
ü C2 : Berkebutuhan khusus Berat ( IQ < 25 )
d) Tunadaksa
ü D : Tunadaksa Ringan
ü D1 : Tunadaksa Sedang
e) Tunalaras ( Dysruptive )
f) Tunawicara
g) Tunaganda
h) HIV AIDS
i) Gifted : Potensi Kecerdasan Istimewa ( IQ > 125 )
j) Talented : Potensi Bakat Istimewa ( Multiple Intelligences : Language, Logical Mathematic, Visuospatial, Bodilykinesthetic, Musical, Interpersonal, Natural, Spiritual )
k) Kesulitan Belajar ( a.l.Hyperaktif, ADD/ADHD, Dyslexia/Baca, Dysgraphia/Tulis, Dyscalculia/Hitung, Dysphasia/Bicara, Dyspraxia/Motorik )
l) Lambat Belajar ( IQ = 70-90 )
m) Autis
n) Korban Penyalahgunaan Narkoba
o) Indigo
C. FAKTOR PENYEBAB KELAINAN
1. Heriditer
Factor penyebab yang berdasarkan keturunan atau sering dikenal dengan genetic, yaitu kelainan kromosom, pada kelompok factor penyebab herediter masih ada kelainan bawaan nongenetik, seperti kelainan pre-mature dan BBLR ( berat bayi lahir rendah ) yaitu berat bayi lahir kurang dari 2.500 gram, merupakan resiko terjadinya anak berkebutuhan khusus. Demikian juga usia ibu sewaktu hamil di atas 35 tahun memiliki resiko yang cukup tinggi untuk melahirkan anak berkebutuhan khusus, seperti yang terlihat dalam table berikut.
| USIA IBU | KELAHIRAN DOWN |
| 20 TAHUN | 1 DALAM 2000 |
| 25 TAHUN | 1 DALAM 1200 |
| 30 TAHUN | 1 DALAM 1000 |
| 35 TAHUN | 1 DALAM 660 |
| 40 TAHUN | 1 DALAM 80 |
| 45 TAHUN | 1 DALAM 17 |
| 49 TAHUN | 1 DALAM 10 |
2. Infeksi
Merupakan suatu penyebab dikarenakan adanya berbagai serangan penyakit infeksi yang dapat menyebabkan baik langsung maupun tidak langsung terjadinya kelainan seperti infeksi TORCH ( toksoplasma, rubella, cytomelago virus, herpes ), polio, meningitis, dll.
3. Keracunan
Keracunan dapat secara langsung pada anak, maupun melalui ibu hamil. Munculnya FAS ( fetal alchohol syndrome ) adalah keracunan janin yang disebabkan ibu mengkonsumsi alcohol yang berlebihan, kebiasaan kaum ibu mengkonsumsi obat bebas tanpa pengawasan dokter merupakan potensi keracunan pada janin. Jenis makanan yang dikonsumsi oleh bayi yang banyak mengandung zat-zat berbahaya merupakan salah satu penyebab. Adanya polusi pada berbagai sarana kehidupan terutama pencemaran udara dan air seperti peristwa Bhopal dan Chernobil sebagai gambarannya.
4. Trauma
Kejadian yang tak terduga dan menimpa langsung pada anak, seperti proses kelahiran yang sulit sehingga memerlukan pertolongan yang mengandung resiko tinggi, terjadinya kecelakaan yang menimpa pada organ tubuh anak terutama bagian kepala, juga bencana alam seperti gempa bumi sering menyebabkan trauma.
5. Kekurangan Gizi
Kekurangan gizi dapat terjadi karena adanya kelainan metabolism maupun penyakit parasit pada anak seperti cacingan. Hal ini di dukung oleh kondisi penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
Jika dipandang dari sudut waktu terjadinya kelainan dapat dibagimenjadi :
a. Pre-natal
Terjadinya kelainan anak semasa dalam kandungan atau sebelum proses kelahiran. Kejadian tersebut disebabkan oleh faktor internal yaitu faktor genetik dan keturunan. Penyebab kelainan prenatal dari faktor eksternal dapat berupa Ibu yang terbentur kandungannya, karena jatuh sewaktu hamil, atau memakan makanan atau obat yang menciderai janin dan sebagainya.
b. Peri-natal
Sering juga disebut natal, waktu terjadinya kelainan pada saat proses kelahiran dan menjelang serta sesaat setelah proses kelahiran. Misalnya kelahiran yang sulit, pertolongan yang salah, infeksi karena ibu mengidap Sepilis dan sebagainya.
c. Pasca-natal
Terjadinya kelainan setelah anak dilahirkan sampai dengan sebelum usia perkembangan selesai ( kurang lebih usia 18 tahun ). Ini dapat terjadi karena kecelakaan, keracunan dan sebagainya.
D. DAMPAK TERJADINYA KELAINAN
1. Dampak Fisiologis
Terutama pada anak-anak yang mengalami kelainan yang berkaitan dengan fisik termasuk sensori-motorik terlihat pada keadaan fisik penyandang kebutuhan khusus kurang mampu mengkoordinasi geraknya.
2. Dampak Psikologis
Berkaitan dengan kemampuan jiwa lainnya, karena keadaan mental yang labil akan menghambat proses kejiwaan dalam tanggapannya terhadap tuntutan lingkungan.
3. Dampak Sosiologis
Timbul karena hubungannya dengan kelompok atau individu disekitarnya, terutama keluarga dan saudara-saudaranya. Kehadiran anak berkebutuhan khusus bagi keluarga merupakan musibah, kesedihan, dan beban yang berat. Anak berkebutuhan khusus yang kurang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan sosialnya, dapat menimbulkan respon yang negative dari lingkungan sosialnya. Hal ini berdampak anak akan dijauhi atau ditolak oleh lingkungan social, dan dalam berkomunikasi akan terjadi jurang pemusah antara anak berkebutuhan khusus dengan orang-orang di lingkungannya.
Dampak berkebutuhan khusus dari 3 dimensi tersebut menyebabkan pengaruh yang cukup berarti dalam kehidupan mereka. Keterbatasan dan daya kemampuan yang mereka miliki menimbulkan munculnya berbagai masalah. Masalah-masalah tersebut adalah sebagai berikut.
a) Masalah kesulitan dalam sehari-hari
b) Masalah penyesuaian diri
c) Masalah penyaluran ke tempat kerja
d) Masalah kesulitan belajar
e) Masalah gangguan kepribadian dan emosi
f) Masalah pemanfaatan waktu luang
E. HAK-HAK YANG DIMILIKI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Sesuai dengan hak asasi sebagai anak dimana ia harus tumbuh dan berkembang di tengah lingkungan keluarga, maka PLB dalam bentuk Kelas khusus yang lokasinya berada di SLB harus dirancang sedemikian rupa sehingga program dan layanannya dekat dengan lingkungan ABK.
Pada akhir perkembangan sekarang ini, Anak luar Biasa sudah mulai dianggap sebagai manusia biasa sama seperti yang lain. Ia memilii hak yang sama. Hal ini menimbulkan perlakuan yang wajar seperti pada anak yang lain yaitu dididik dan disekolahkan.
Perbedaannya hanya terletak pada adanya kelaian yang disandangnya, Kelainan bisa terletak pada fisiknya, mentalnya, sosialnya atau perpaduan ketiganya. Mereka mengalami kelainan sedemikian rupa sehingga membutuhkan pelayanan Pendidikan Luar Biasa. Dengan sikap ini maka ia memiliki hak yang sama dengan anak biasa lainnya. Dengan sikap ini timbul deklarasi hak asasi manusia penyandang cacat yang meliputi:
1. Hak untuk mendidik dirinya. (The Right to Educated Oneself)
2. Hak untuk pekerjaan dan profesi.(The Right to Occupation or Profession)
3. Hak untuk memelihara kesehatan dan fisik secara baik ( The Right to Maintain Health and Physical Well Being)
4. Hak untuk hidup mandiri (the Right to Independent Living)
5. Hak untuk kasih sayang (Right to Love)
Sebenarnya semua manusia diciptakan sama, hal ini sering didengungkan oleh berbagai pihak, tetapi dalam realita kehidupan terutama untuk anak-anak berkebutuhan khusus masih merupakan suatu perjuangan. Meskipun dalam pembukaan undang-undang dasar kalimat persamaan hak telah ditegaskan, namun diperlukan interprestasi persamaan hak memperoleh kesempatan. Persamaan hak sebenarnya telah diatur dengan berbagai perangkat perundangan formal, tetapi permasalahannya tidak adanya sangsi yang jelas terhadap pelanggaran peraturan yang ada, sehingga masih banyak anak-anak berkebutuhan khusus yang belum memperoleh haknya.
Landasan Yuridis Formal
Hak-hak yang dimiliki anak berkebutuhan khusus berdasarkan pada landasan yuridis formal meliputi ;
1. UUD 1945 ( Amandemen ), dalam pasal 31 ayat 1 dan 2
2. UU No.20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional, dalam pasal 3, 5, dan 32
3. UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dalam pasal 48, 49, 50, 51, 52, dan 53
4. UU No.4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, dalam pasal 5
5. Deklarasi Bandung ( Nasional ) “ Indonesia Menuju Pendidikan Inklusif” 8-14 Agustus 2004.
Dari berbagai perangkat perundangan yang telah ada tersebut ternyata masih belum menyadarkan masyarakat dan pelaku pendidikan member hak memperoleh pendidikan yang sama yang dimiliki anak berkebutuhan khusus.
DAFTAR PUSTAKA
1. Bahan ajar cetak “Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus” oleh Suparno
2. http://ikadam23.wordpress.com/2009/11/06/konsep-dasar-pembelajaran-adaptif-dan-anak-berkebutuhan-khusus/
